.jpg)
Mendekati pemilihan presiden, sangat banyak spanduk-spanduk yang gak jelas dari para capres-cawapres. Isi spanduk nya ga jauh dari janji-janji ga jelas untuk rakyat yang kebanyakan hanya dalam tataran normatif saja. Diantara sekian banyak spanduk. Ada spanduk yang cukup menarik bagi saya. Spanduk jenis ini cukup banyak tersebar di Kota Bandung. Ga tau tah, kalo di kota lain kek gimana. Dalam spanduk ini tertulis tiga kalimat, diantaranya:
1. Kalau bisa satu putaran kenapa harus dua putaran?
2. Lanjutkan
3. Masyarakat penyelamat uang rakyat
Terus terang saya ga tau siapa yang bikin spanduk kek gini. Tim sukses dari siapa gitu yah. Tapi kalo kalian liat point yang kedua. Maka kalian bisa menebak dengan mudah siapa gerangankah yang bikin spanduk kek gini.
Okey. kite liat point yang pertama. "Kalau bisa satu putaran kenapa harus dua putaran?". Di akhir kalimat ada tanda tanya nya.
Jadi kite bisa nyimpulin kalimat pada point pertama adalah kalimat pertanyaan, bukan pernyataan. Mereka (yang bikin spanduk ini dan antek-anteknya) menyadari, bahwa pemilihan capres-cawapres ini sangat menghamburkan uang rakyat. Uang dari memeras rakyat (pajak maksudnya) dihambur-hamburkan untuk yang mereka sebut dengan hura-hura (pesta) demokrasi. Pesta ini yang ngebiayain rakyat, namun setelah pesta ini selesai. Kita bisa menebak siapa yang hidup enak dengan aneka fasilitas dan pelayanan, tentunya mereka para pemenang pesta ini penguasa dan pengusaha. Sedangkan rakyat, pada gigit jari dan membereskan sampah yang terserak dari sisa pesta yang diadakan oleh mereka. So, rakyat harusnya sadar. Mau satu putaran atau dua putaran, tetep aja ga ada bedanya. Tetep menghamburkan uang rakyat.
next, point yang kedua. sebuah kalimat yang singkat "Lanjutkan". Ini maksudnya lanjutkan apa nih. Lanjutkan menghamburkan uang rakyat dan memeras keringat para rakyat, atau apa nih. Jika melihat track record pasangan capres-cawapres yang semuanya pernah duduk sebagai orang nomor satu dan nomor dua di republik ini, sebaiknya masyarakat jangan terlalu berharap terlalu tinggi. Jargon ekonomi kerakyatan bisa aja hanya sekedar janji. Lihat saja bagaimana program privatisasi perusahaan plat merah alias BUMN sejak pemerintahan Soeharto, hingga masa pemerintahan Megawati kemudian masuk pemerintahan SBY terus berlanjut. Padahal hampir sebagian BUMN yang dilego ke swasta itu berusaha dalam bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak. SBY, JK dan Megawati seperti dikutip Waspada Online, pernah menjual blok minyak dan gas, menjual BUMN dan berutang. Megawati membuat kontrak blok gas Tangguh, yang berpotensial merugikan negara Rp 750 trilyun (dalam 25 tahun), menjual murah Indosat sekitar Rp 5,26 trilyun kepada Temasek Holding, dijual lagi kepada Qtel (Qatar) senilai Rp 1,8 milyar dollar AS. Bahkan pasangan SBY-JK mengijinkan Qtel menguasai saham Indosat hingga 65 persen. Dan masih banyak lagi BUMN yang dijual oleh mereka, kalo ditulis semua disini, ntar kepanjangan. Jadi udah jelas kan, mereka (capres-cawapres dan antek-anteknya) mau meneruskan apa.
Last, point ketiga. "Masyarakat penyelamat uang rakyat". Pertanyaan nya uang rakyat yang mana yang mau diselamatin nih, terus setelah diselamatin (disimpen) masuk ke kantong siapa nih. Ga jelas kan. Yang pasti, di negeri Indonesia yang sekuler ini. Perputaran uang itu kebanyakan di dunia non real alias bursa saham dan bursa efek. parahnya, perputaran uang yang banyak di sektor non real ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Tepatnya para Pengusaha dan orang bermodal. Singkatnya, perputaran uang di sektor non real jauh lebih besar daripada di sektor real. Sektor real ini udah jumlahnya sedikit, diperebutin oleh rakyat kecil. Jadi, uang rakyat yang mana nih yang mau diselamatin. Pastinya uang rakyat si pemilik modal kan. Hayo ngaku,,,,
Kalo mau nyelamatin uang rakyat, tentunya harus mengubah kondisi ekonomi Indonesia. Untuk mengubah kondisi ekonomi Indonesia yang kini tengah terpuruk, harus ada perubahan paradigma kebijakan ekonomi yang pro rakyat kecil dan miskin (bukan rakyat kaya), bukan juga mendukung ekonomi neoliberal. Artinya sudah saatnya bangsa Indonesia menggunakan sistem alternatif yang berpihak pada rakyat yakni sistem ekonomi islam. Sistem ekonomi islam bukanlah filsafat yang hanya tersimpan di dalam buku, tapi pernah terlaksana dalam kurun waktu yang sangat lama. Bahkan pernah membawa kejayaan pada kaum muslimin karena memberikan kehidupan ekonomi kepada rakyat dengan aman, adil, dan bebas krisis.
Readmore »»
next, point yang kedua. sebuah kalimat yang singkat "Lanjutkan". Ini maksudnya lanjutkan apa nih. Lanjutkan menghamburkan uang rakyat dan memeras keringat para rakyat, atau apa nih. Jika melihat track record pasangan capres-cawapres yang semuanya pernah duduk sebagai orang nomor satu dan nomor dua di republik ini, sebaiknya masyarakat jangan terlalu berharap terlalu tinggi. Jargon ekonomi kerakyatan bisa aja hanya sekedar janji. Lihat saja bagaimana program privatisasi perusahaan plat merah alias BUMN sejak pemerintahan Soeharto, hingga masa pemerintahan Megawati kemudian masuk pemerintahan SBY terus berlanjut. Padahal hampir sebagian BUMN yang dilego ke swasta itu berusaha dalam bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak. SBY, JK dan Megawati seperti dikutip Waspada Online, pernah menjual blok minyak dan gas, menjual BUMN dan berutang. Megawati membuat kontrak blok gas Tangguh, yang berpotensial merugikan negara Rp 750 trilyun (dalam 25 tahun), menjual murah Indosat sekitar Rp 5,26 trilyun kepada Temasek Holding, dijual lagi kepada Qtel (Qatar) senilai Rp 1,8 milyar dollar AS. Bahkan pasangan SBY-JK mengijinkan Qtel menguasai saham Indosat hingga 65 persen. Dan masih banyak lagi BUMN yang dijual oleh mereka, kalo ditulis semua disini, ntar kepanjangan. Jadi udah jelas kan, mereka (capres-cawapres dan antek-anteknya) mau meneruskan apa.
Last, point ketiga. "Masyarakat penyelamat uang rakyat". Pertanyaan nya uang rakyat yang mana yang mau diselamatin nih, terus setelah diselamatin (disimpen) masuk ke kantong siapa nih. Ga jelas kan. Yang pasti, di negeri Indonesia yang sekuler ini. Perputaran uang itu kebanyakan di dunia non real alias bursa saham dan bursa efek. parahnya, perputaran uang yang banyak di sektor non real ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Tepatnya para Pengusaha dan orang bermodal. Singkatnya, perputaran uang di sektor non real jauh lebih besar daripada di sektor real. Sektor real ini udah jumlahnya sedikit, diperebutin oleh rakyat kecil. Jadi, uang rakyat yang mana nih yang mau diselamatin. Pastinya uang rakyat si pemilik modal kan. Hayo ngaku,,,,
Kalo mau nyelamatin uang rakyat, tentunya harus mengubah kondisi ekonomi Indonesia. Untuk mengubah kondisi ekonomi Indonesia yang kini tengah terpuruk, harus ada perubahan paradigma kebijakan ekonomi yang pro rakyat kecil dan miskin (bukan rakyat kaya), bukan juga mendukung ekonomi neoliberal. Artinya sudah saatnya bangsa Indonesia menggunakan sistem alternatif yang berpihak pada rakyat yakni sistem ekonomi islam. Sistem ekonomi islam bukanlah filsafat yang hanya tersimpan di dalam buku, tapi pernah terlaksana dalam kurun waktu yang sangat lama. Bahkan pernah membawa kejayaan pada kaum muslimin karena memberikan kehidupan ekonomi kepada rakyat dengan aman, adil, dan bebas krisis.







